gadget

EDISI

EDISI 1 (12) EDISI 2 (11) EDISI 3 (14) EDISI 4 (10) EDISI 5 (9) EDISI 6 (9) IKLAN (4) INFO (5) RESENSI (6) Salam Redaksi (7)

Senin, 18 September 2017

“Mari Berkurban” Tapi Jangan Korbankan Kejujuran Demi Secuil Sogokkan Maupun Ancaman !!





Oleh : Nahra Malik
karena identik dengan penyembelihan hewan kurban, Hari raya Idul Adha juga biasa disebut sebagai hari Kurban yang dirayakan umat Islam setiap tanggal 10 bulan Dzulhijjah. Dalam kalender masehi, perayaan Idul Adha tahun ini diperingati pada hari Jumat tanggal 1 September 2017. Selait umat Islam dunia yang melakukan Ibadah haji di Tanah Suci Makkah, Seluruh umat muslim di dunia juga merayakan hari besar islam ini termasuk di Desa Kaduronyok, Kec. Cisata Kab. Pandeglang-Banten, khususnya Ponpes Al-Ihya yang mengelola pelaksanaan Kurban. ….hewan kurban yang disembelih dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat yang mendapatkan kupon.
Kebahagiaan yang dirasakan oleh yang berkurban semakin besar ketika banyak penerima kurban yang merasakan kebahagiaan salah satunya Mak Ucuk, seorang Ibu penjual nasi di lingkungan Ponpes Al-Ihya yang rumahnya selalu ramai dikunjungi para santriawan Al-Ihya, “saya sangat bersyukur mendapatkan daging kurban, mudah-mudahan tahun depan lebih banyak lagi.. hehehe. Pokoknya terimaksih kepada yang berkurban dan khusus untuk siswa/siswi aliyah semoga menjadi orang-orang yang sukses yaa”. Katanya, pada /09/2017.
Disisi lain, pada hari raya Kurban di tahun 2017 ini juga terjadi pembantaian umat islam rohingya besar-besaran di Myanmar. Pembakaran, pembunuhan, pemerkosaan dan penganiayaan itu memakan banyak korban jiwa yang ramai diberitakan di media massa. Diantaranya banyak berita yang menumbuhkan rasa prihatin dan peduli sekaligus juga banyak berita yang malah memicu perselisihan antar agama contohnya agama minoritas Budha yang hidup damai di Indonesia dan menjadi mayoritas di Myanmar dengan agama mayoritas islam di Indonesia yang menjadi minoritas dan diperlakukan tidak adil di Myanmar.
Bukan hanya dalam dunia politik maupun kegiatan bermasyarakat, ternyata dunia Pers juga tidak henti-hentinya diintai oleh nafsu dan sifat lemah. Sampai saat ini, kehadiran Pers atau Jurnalistik dunia sangat berperan penting dalam perkembangan kehidupan baik itu bagi masyarakat, pemerintah maupun hubungan antar negara. Tidak sedikit informasi atau berita-berita yang dikemas sedemikian rupa namun melenceng dari fakta sehingga kesucian dunia Pers semakin terkikis hanya karena ketakutan pada ancaman/tekanan maupun karena sogokkan. Contohnya dalam tragedy Pembantaian Umat Muslim Rohingya.
Muhammed mengatakan bahwa banyak kerabatnya, termasuk saudara perempuannya, masih berada di Rakhine, sementara beberapa kerabat lainnya tewas dalam aksi kekerasan yang tengah berlangsung. Namun berita-berita yang beredar banyak yang bertentangan dengan fakta dan opini masyarakat.
“Saya membaca berita bahwa sekitar 300 warga Rohingya terbunuh, namun saya telah diberitahu teman-teman saya yang diserang [di negara bagian Rakhine] bahwa lebih dari 3.000 Muslim Rohingya terbunuh dan hampir 100 desa dibakar habis,” ungkapnya.
Dunia masih tetap diam menghadapi pembunuhan massal di Rakhine. Ia menambahkan, beberapa laporan media yang bersumber dari pemerintah Myanmar mengklaim bahwa umat Muslim telah menyerang umat Buddha dan memperkosa wanita-wanitanya. “Hal ini jelas-jelas salah. Bagaimana mungkin kelompok minoritas yang telah hidup dalam kekerasan selama bertahun-tahun melakukan hal itu?” pungkasnya.
Ditinjau dari sudut pandang sejarah dunia, sampai detik ini seringkali ada campurtangan asing dalam memicu perselisihan antar agama dengan memanfaatkan suatu tragedy yang dikemas menjadi berita-berita yang menyudutkan suatu. Hal tersebut juga menjadi salah satu motivasi MA Al-Ihya Kaduronyok melahirkan Ekstrakurikuler Jurnalistik. Sebagaimana dikemukakan oleh Ibu St. Nahriah A dalam Rapat pers MALIKA Edisi 3. “Ekstrakurikuler Jurnalistik ini bukan sekedar aktifitas siswa dalam menyalurkan bakat dan menggali potensi melalui penerbitan madding, blog dan majalah saja, melainkan juga sebuah langkah awal untuk melahirkan generasi-generasi Pers yang Mandiri, Amanah, Luas (baik dalam segi wawasan, pemikiran dan hati (bijak)), Ikhlas, Kreatif dan Asik..“ katanya pada Jum’at 09/09/2017.
Di Indonesia, meskipun berbeda kepercayaan masyarakatnya hidup dengan rukun dan damai bahkan sejak masih zaman kerajaan. Berbagai suku bangsa yang tersebar di seluruh pulau dengan perbedaan adat dan budaya tidak menjadi alasan permusuhan bahkan sampai penjajahan pemerintahan Belanda, Inggris dan Portugis datang memporak porandakan kedamaian hidup masyarakat. Namun banyak sejarah yang di catat oleh para penjajah mengatakan bahwa kerajaan hindu-Budha Majapahit di jatuhkan oleh kerajaan Demak, padahal kerajaan Majapahit runtuh akibat perang saudara (perang sesame agama hindu/budha) seperti Perang Paregregyang yang justru melemahkan kekuasaan kerajaan seperti Bre Wirabhumi dengan Wikrama Wardhana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INFO Terbaru

INFO Terbaru
"The Best Writer Of The Month" Edisi September

INFO Khusus

INFO Khusus
Karena terbentur dengan kegiatan UAS dan libur sekolah, pendaftaran anggota baru dibuka pada tanggal 01 November - akhir Desember 2017