Oleh : Nahra Malik
karena
identik dengan penyembelihan hewan kurban, Hari raya Idul Adha juga biasa
disebut sebagai hari Kurban yang dirayakan umat Islam setiap tanggal 10 bulan
Dzulhijjah. Dalam kalender masehi, perayaan Idul Adha tahun ini diperingati
pada hari Jumat tanggal 1 September 2017. Selait umat Islam
dunia yang melakukan Ibadah haji di Tanah Suci Makkah, Seluruh umat muslim di
dunia juga merayakan hari besar islam ini termasuk di Desa Kaduronyok, Kec.
Cisata Kab. Pandeglang-Banten, khususnya Ponpes Al-Ihya yang mengelola
pelaksanaan Kurban. ….hewan kurban yang disembelih dan dagingnya dibagikan
kepada masyarakat yang mendapatkan kupon.
Kebahagiaan
yang dirasakan oleh yang berkurban semakin besar ketika banyak penerima kurban
yang merasakan kebahagiaan salah satunya Mak Ucuk, seorang Ibu penjual nasi di
lingkungan Ponpes Al-Ihya yang rumahnya selalu ramai dikunjungi para santriawan
Al-Ihya, “saya sangat bersyukur mendapatkan daging kurban, mudah-mudahan tahun
depan lebih banyak lagi.. hehehe. Pokoknya terimaksih kepada yang berkurban dan
khusus untuk siswa/siswi aliyah semoga menjadi orang-orang yang sukses yaa”.
Katanya, pada /09/2017.
Disisi lain,
pada hari raya Kurban di tahun 2017 ini juga terjadi pembantaian umat islam
rohingya besar-besaran di Myanmar. Pembakaran, pembunuhan, pemerkosaan dan
penganiayaan itu memakan banyak korban jiwa yang ramai diberitakan di media
massa. Diantaranya banyak berita yang menumbuhkan rasa prihatin dan peduli
sekaligus juga banyak berita yang malah memicu perselisihan antar agama
contohnya agama minoritas Budha yang hidup damai di Indonesia dan menjadi
mayoritas di Myanmar dengan agama mayoritas islam di Indonesia yang menjadi
minoritas dan diperlakukan tidak adil di Myanmar.
Bukan hanya
dalam dunia politik maupun kegiatan bermasyarakat, ternyata dunia Pers juga
tidak henti-hentinya diintai oleh nafsu dan sifat lemah. Sampai saat ini,
kehadiran Pers atau Jurnalistik dunia sangat berperan penting dalam
perkembangan kehidupan baik itu bagi masyarakat, pemerintah maupun hubungan
antar negara. Tidak sedikit informasi atau berita-berita yang dikemas
sedemikian rupa namun melenceng dari fakta sehingga kesucian dunia Pers semakin
terkikis hanya karena ketakutan pada ancaman/tekanan maupun karena sogokkan.
Contohnya dalam tragedy Pembantaian Umat Muslim Rohingya.
Muhammed mengatakan bahwa banyak kerabatnya,
termasuk saudara perempuannya, masih berada di Rakhine, sementara beberapa
kerabat lainnya tewas dalam aksi kekerasan yang tengah berlangsung. Namun
berita-berita yang beredar banyak yang bertentangan dengan fakta dan opini
masyarakat.
“Saya membaca berita bahwa sekitar 300 warga
Rohingya terbunuh, namun saya telah diberitahu teman-teman saya yang diserang
[di negara bagian Rakhine] bahwa lebih dari 3.000 Muslim Rohingya terbunuh dan
hampir 100 desa dibakar habis,” ungkapnya.
Dunia masih tetap diam menghadapi pembunuhan
massal di Rakhine. Ia menambahkan, beberapa laporan media yang bersumber dari
pemerintah Myanmar mengklaim bahwa umat Muslim telah menyerang umat Buddha dan
memperkosa wanita-wanitanya. “Hal ini jelas-jelas salah. Bagaimana mungkin
kelompok minoritas yang telah hidup dalam kekerasan selama bertahun-tahun
melakukan hal itu?” pungkasnya.
Ditinjau dari sudut pandang sejarah dunia,
sampai detik ini seringkali ada campurtangan asing dalam memicu perselisihan
antar agama dengan memanfaatkan suatu tragedy yang dikemas menjadi
berita-berita yang menyudutkan suatu. Hal tersebut juga menjadi salah satu
motivasi MA Al-Ihya Kaduronyok melahirkan Ekstrakurikuler Jurnalistik.
Sebagaimana dikemukakan oleh Ibu St. Nahriah A dalam Rapat pers MALIKA Edisi 3.
“Ekstrakurikuler Jurnalistik ini bukan sekedar aktifitas siswa dalam
menyalurkan bakat dan menggali potensi melalui penerbitan madding, blog dan
majalah saja, melainkan juga sebuah langkah awal untuk melahirkan
generasi-generasi Pers yang Mandiri, Amanah, Luas (baik dalam segi wawasan,
pemikiran dan hati (bijak)), Ikhlas, Kreatif dan Asik..“ katanya pada Jum’at
09/09/2017.
Di Indonesia, meskipun berbeda kepercayaan
masyarakatnya hidup dengan rukun dan damai bahkan sejak masih zaman kerajaan.
Berbagai suku bangsa yang tersebar di seluruh pulau dengan perbedaan adat dan
budaya tidak menjadi alasan permusuhan bahkan sampai penjajahan pemerintahan
Belanda, Inggris dan Portugis datang memporak porandakan kedamaian hidup
masyarakat. Namun banyak sejarah yang di catat oleh para penjajah mengatakan
bahwa kerajaan hindu-Budha Majapahit di jatuhkan oleh kerajaan Demak, padahal
kerajaan Majapahit runtuh akibat perang saudara (perang sesame agama
hindu/budha) seperti Perang Paregregyang yang justru melemahkan kekuasaan
kerajaan seperti Bre Wirabhumi dengan Wikrama Wardhana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar