Sang Primadona
Created By ;
Fazry Muhammadan Malik
Sebut saja dia Falik. Walau berasal dari desa, namun wajahnya tidak nampak seperti orang desa.(kotaan gitu !! ehehe)
Falik lumayan tampan dianatara yang lainnya, sedari SMP ia memang sudah menjadi primadona bagi kaum hawa. (Bisa dibilang punya banyak fans gitu kayak seleb. Sekelas deh sama bintang India Gurmeet #heureuy.com). Selain tampan, rupanya Falik lumayan pintar, bahkan ia mendapatkan juara 1 dari kelas V11-1X, dan lagi ia menjadi juara umum di sekolahnya.
Falik cukup dikenal banyak orang karena ketampanan dan kepintarannya, Hingga suatu hari salah seorang ibi-ibu bertanya pada ibu Falik:
“Bu..!!” kata ibu-ibu sambil nyerengeh
“Iya...!” Sahut ibu Falik sdikit canggung.
“Bu, memang anak ibu dikasih makan apa sih, sampe segitu ganteng dan pintarnya??.”dengan lantangnya ibu itu bertanya.
Ibu Falik pun menjawab, sambil merasa heran dengar pertanyaan aneh nan lucu itu.
“Hahaha..Ibu ada-ada saja kalau nanya. Ya.. saya cuman memberi makan nasi tak lebih seperti anak-anak lainya... mungkin nurun dari saya kali ya, ehehe #heureuyagain.com”
Tersipu malu ibu itu, lalu berkata sekilas: “Hehe...Maaf.”
Percakapan berlalu dan lanjut ke percakapan ibu-ibu lainya.
Hingga suatu ketika Falik lulus dari SMP yang ada di desanya.
Sebulan sebelum Kelulusan, ia ditunjuk menjadi pengantin prianya oleh pak Juki. Biasa, untuk sungkeman gitu. Falik pun menyanggupinya.
Hari dimana puncaknya telah tiba, Falik dan Novi Sebagai pengantin wanitanya di dandani paling dahulu oleh tukang Make up. Ya.iyalah.. masa didandani tukang bakso, kecappp kali ah. haha #heureuy.com
“Make up selesai”
Disaat Falik dan Novi keluar… #Jrengggg sontak senja menjadi terang.. suara pun ramai dari kiri dan kanan depan belakang , yang memanggil nama Falik dengan sebutan Pangeran dari Syurga. #UwooowW Falik pun hanya tersenyum malu.. tapi tidak sampai malu-maluin. Kharismanya kian memancar bak pangeran sungguhan.
“Pangeran Falik love U...love U..” teriak beberapa siswi, bahkan ada juga yang menjerit.. menjerit gara-gara keinjek temennya yang terlalu semangat neriakin Falik. Wkwk.
Ada yang berkata!!! “Falik sayang.. suamiku.” Kalimat itu keluar dari mulut para penonton, dan kalimat lainnya yang untungnya tidak sampai membuat jantung Falik Copot gara-gara difitnah sebagai suaminya. Uhukk..
Namun semua kalimat itu tidak sampai membuat Fikka Cemburu.
Siapa Fikka ???
Yaaah.. siapa lagi kalau bukan kekasih alias pacar dari Falik. WitwiwW #heureuyagain
Pada akhirnya acara pun usai. Dengan sedikit lelah menyerangi tubuhnya, seorang Falik duduk di lantai dan terjadilah obrolan hangat keluarga:
“Falik..!!” ibu memulai percakapan
“Iya mah...” dengan suara letih Falik menjawab.!
“Kamu mau nerusin SMA kemana Lik?...” Tanya Mamah
“Terserah mamah dan Bapak aja!!” Jawab Falik
“Sekolah di deket aja ya!!” kata mamah
“Iya mah” dengan nada pasrah Falik menjawab.
“Mau sekolah di SMA 5 apa di MAN 4 Lik.?? Tapi, menurut mamah mending di MAN 4 yah tapi sambil nyantri!! Hehe..kalau kamu setuju mamah sudah daftarin kamu duluan kamu tinggal masuk saja!!..”
“Ikh mamah kok nawarin kayak gitu amat... udah daftarin duluan lagi”... ucap Falik (merenung)
Lelah di tubuh Falik masih terus terasa dan keluarga itu pun melanjutkan obrolannya sambil nonton TV.
Namum di tengah obrolan hangat itu tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar memotong pembicaraan mereka.
“Tok... tok... tok..”suara ketukan dari luar .
Dengan sigap dan cepat Falik langsung membukakan pintu. Ternyata di luar adalah pak Jumri. Guru Falik yang paling dekat dengan Falik
Falik menyilahkan pak Jumri unuk masuk dan ikut serta dalam pembicaraan itu. Tiba-tiba Pak Jumri menengahi pembicaraan itu:
“Lik !! kamu mau sekolah kemana habis ini??” Tanya pak Jumri
“emmm… pak.. sebenarnya saya sudah di daftarin di MAN 4 sama ibu!!..” ujar Falik agak gugup
“Oh udah didaftarin yah...!!..” Ucap Pak Jumri sambil menghela nafas panjaaang
“Iya pak..emang kenapa gitu pak ??..” Tanya Falik penasaran.
“Tadinya bapak mau ngajak kamu sekolah ke AL-Ihya sambil nemenin anak bapak..!” Kata Pak Jumri.
“Kalo urusan itu bapak tinggal bicara sama ibu saya pak...!! “ Sahut Falik.
“Oh iya, nanti saya bicarakan dengan ibumu..!!” tukas Pak Jumri dengan perasaan lega.
Pembicaraan mereka berlangsung hingga larut malam dan waktu menunjukan pukul 00.15, sampai Falik menguap kesekian kalinya dan pak Jumri pamitan untuk pulang..
Selepas itu, Falik mulai merenung dan berfikir panjang semalaman.
Sehingga keesokan harinya pak Jumri kembali datang ke rumah Falik dan menanyakan soal sekolah Falik kepada orang tua Falik.
Pembicaraan panjang pun terjadi, dan akhirnya orangtua Falik menyanggupi usulan pak Jumri supaya Falik sekolah ke AL-IHYA.
“Harinya pun tiba. Detik-detik pertama di Al-Ihya.. membawa cerita baru dalam sejarah hidup seorang Falik.
Di sekolah barunya pun Falik banyak di gemari oleh kaum hawa bahkan ia menjadi primadona sekolah. Hal itu terlihat jelas saat banyak siswi bertaburan lope-lope di wajahnya saat berpapasan dengan sosok Falik, bahkan ia juga sering mendapatkan surat dan kado dari penggemarnya.
Namun ada cerita pedih dibalik itu.. selang beberapa pekan ia mendapatkan berita bahwa : Fikka akan menikah. #jreng..jreng..jrengg.
Tentu itu menjadi berita paling HOT baginya mengalahkan berita apapun.
Falik yang masih belia itu dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan. Sambil diiringi backsound –Tenda Biru- nya Desy Ratnasari, ia berusaha tegar menjalani harinya.
Bagaimana bisa hati tenang dan pikiran focus pada pelajaran.. kala batin ditimpa nestapa kian menyakitkan. Inilah resiko nya menjalin cinta di usia sekolah. memang seharusnya ia tidak bermain cinta dulu sebelum siap lahir bathin, terutama siap menikah #hehe
Namun bagi Falik.. tidak butuh waktu lama untuk mengobati hatinya yang hancur lebur. Di MA Al-Ihya itu ia memperoleh banyak teman yang menghibur dan tugas-tugas sekolah pun senantiasa menyibukkan dirinya. hingga ia hanyut dalam mengukir prestasi. Sibuk memikirkan wanita yang belum tentu menjadi jodoh kita itu tidak akan membuat kita jadi ranking 1 kaan?? Jadi…. Lebih baik sibuk dalam hal positif yang akan membuahkan hasil yang bermanfaat. Hehehe.
Ia pun terus berusaha agar virus cinta tidak memporak poranda kan masa muda nya.
Intinya:Jadilah diri sendiri dan jangan ingin menjadi seperti orang lain, karena diri kalian sendiri lebih baik daripada orang lain guys, walaupun diri kalian tak sehebat mereka di sana tapi jadilah yang hebat dengan menjadi diri kita sendiri. “Never give up, Don’t be lazy guys”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ "Lewat Ekstrakurikuler Jurnalistik "MALIKA" ini, semoga segala informasi/fenomena/bacaan yang kami sajikan menjadi sebuah ilmu yang bermanfaat bagi kita semua" (aamiin)
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Minggu, 08 Juli 2018
Minggu, 08 Oktober 2017
Cita & Cinta di Al Ihya
Oleh:
Nahra Malik
Diambil
dari kisah nyata di -Era 2008-
“perempuan itu ujung-ujungnya ke
dapur. Untuk apa sekolah???”.
Kembali teringat ucapan bapak di sore itu.
Saat aku mengungkapkan keinginanku bahwa “aku ingin melanjutkan sekolah”
Airmata
segera membanjir. Sambil menggenggam sapu lidi dan menyapu dedaunan yang
berserakan di halaman kobong. Aku melihat 2 siswa baru MA Al-Ihya melintasi
kobong kami, mengenakan seragam putih-abu.
“Rabb..
ingin sekali rasanya seperti itu”
Karena rumahku tidak begitu jauh dari
kobong, aku mampir sebentar ke rumah untuk mengambil buku. Tiba-tiba ibu
menghampiriku.
“Nak, bapak sudah mendaftarkan kamu
sekolah di MA Al-Ihya”. Kata ibu sambil tersenyum.
Merasa senang bukan kepalang, aku
berlari kegirangan menuju kobong.
“teteh…. Teh”. Panggilku kepada
senior-seniorku di kobong. “teh , aku juga mau sekolah.. aku mau sekolah…”
kataku kegirangan, “mana iis? Aku juga sekolah…”
“memangnya masih bisa ya? Bukan nya
siswa-siswi baru sudah lama masuk dan diajar bahasa sama aki Haji??”. Kata iis
“kita ke sekolah aja… “
Sampai pada waktu malam tiba, aku
begitu kesulitan memejamkan mata. Tidak sabar menantikan hari esok dan mengenakan
seragam putih abu.
***
Pada waktu subuh, terdengar suara
adzan dari mesjid kemudian disusul bunyi bel dari atas pintu.
Setiap
pagi setelah sholat berjama’ah kami semua terbiasa setoran hafalan juz’amma.
Santriawan mengaji di majlis kepada Ust. Mahfudin Rusydi dan Santriawati
mengaji kepada Ustadzah Popon di kobong.
Menjlelang
terang, Nampak Maria dari kamar dengan raut gugup dan suara seraknya karena
flu.
“Teh…
Teteh” kata Maria kepada bu Ustadzah, kami biasa memanggil guru kami itu dengan
sebutan sayang kami: -Teteh-.
Semua
mata menatap Maria penuh Tanya.
“ada
apa???”. Tanya Ustadzah Popon.
“hah
??? orang gila? Mana orang gila? Mana?”. Ceplos Teh Nafisah yang tiba-tiba
muncul dari dapur. Ceplas-ceplosnya menimbulkan keseragaman persepsi kami bahwa:
Maria melihat orang gila.
Aku
yang baru selesai menyelesaikan setoran hafalanku pun ikut merasa panik dan
ikut menebak bahwa yang membuat Maria ketakutan itu tiada lain ialah orang
gila.
Sementara
Maria tidak mampu berkata-kata, gelagapan dan terlihat sangat ketakutan, Tanpa pikir
panjang kami semua membuntuti Ustadzah ke kamar depan dan ikut mengintip lewat
jendela kamar.
“waaaw…
pak… bapak… bapaaaaaaak”. Teriak Ustadzah kepada suaminya, pak Ustadz. “Bapaaak…
a… a…. ada.. pocong.. ada pocong”. Lanjut Ustadzah.
Kami
semua ketakutan dan menangis. Walaupun kami tidak melihatnya, mendengar kata
pocong kami begitu ketakutan. Meskipun akal kami mengatakan “masa sih di
pagi-pagi begini ada pocong???”. Tapi kami tetap ketakutan.
Dengan
bercucuran airmata, kami semua beramai-ramai keluar. Lututku terasa sangat lemas.
“hhhk…
hhhhkk… ahahaha..”. terdengar tawa khas-nya kak Sabta. Santriawan paling
senior.
“haaaah
???????” semua mata terkejut
“dasar
kamu !!!!! Sabta!!!!” Cetus Ustadzah Popon sambil tak kuasa menahan tawa.
Kami
semua tertawa. Tawa yang kian bercampur baur dengan airmata itu membuat kami
semakin ingin tertawa.
Ternyata,
pocong palsu itu ialah Kak Sabta. Salah satu alumnus MA Al-Ihya yang cukup nge-hits
di Aliyah pada zaman-nya. Dengan melilit dirinya menggunakan selimut
bergaris khas rumah sakit, Ia bermaksud menakut-nakuti santriawan yang sedang
mengaji. Alhasil, santriawati lah yang terkena ulah usilnya.
Usai
dibuat menangis dan tertawa dalam satu waktu sekaligus itu kami kembali
melanjutkan rutinitas kami. Dengan semangat dan penuh cinta kami beramai-ramai
membersihkan rumah Ustadzah, kobong dan seluruh halaman kami. Begitulah
kebiasaan kami setiap pagi, usai mengaji kami sibuk dengan jadwal piket masing-masing.
Ada yang memasak, mencuci piring, menyapu, ngepel dan lain sebagainya. Oleh
karena itu, selain kobong kami terasa adem dan hangat, kobong kami juga terasa
sangat nyaman dan bersih. Semua itu merupakan pengalaman berharga bagi kami.
Selain dididik agar menjadi wanita yang mengerti ilmu agama, kami juga dididik
untuk menjadi wanita yang ahli merawat keluarga seperti memasak dan
beres-beres.
Usai
bersih-bersih, di dapur kobong kami sudah tersedia setumpuk nasi liwet di atas
daun pisang dengan lauk ikan peda dan tumis solempat, tidak terlewat juga sambal
dan lalab yang begitu menggoda. Itu adalah menu sarapan yang tak terlupakan
nikmatnya.
Selain
dapat meningkatkan keakraban, makan bersama seperti itu juga sangat ekonomis
dan menghemat anggaran hidup kami…
***
MA
Al-Ihya… I am Coming
Sudah
berlangsung beberapa hari setelah MOS. Aku mendapat bagian kelas di Ruang X A
paling pojok gedung.
Dengan
langkah santai aku dan iis menapaki satu demi satu anak tangga. Rupanya gedung
sekolah masih sangat sepi.
Masih
sangat pagi.
Sambil
memancarkan senyuman gembira kami terus melangkah melintasi ruangan-ruangan
kelas yang masih sunyi.
“wah..
hebat, kita datang paling pagi”. Kata iis.
Tersentak.
Aku
melongo di depan pintu kelasku. Menyaksikan sosok penuh wibawa tengah duduk di
kursi guru. Mengenakan sarung putih, baju putih dan kopiah putihnya.
Sambil
menunduk. Aku dan iis menyalaminya. Ternyata beliau adalah Aki Haji. Aku dan
iis hanya bisa duduk manis sambil –dag-dig-dug- di dalam hati.
“Rabb…
akhirnya aku bisa bertemu dengan beliau di dalam kelas yang masih sunyi ini”.
Bisikku dalam hati. Sebenarnya sangat malu dan begitu gugup.
Kami
hanya mampu menunduk tanpa berani menatap ke arah beliau.
“ehm…”.
Desis beliau sambil menunjuk sebuah penghapus di mejanya. “coba… dihapus”. Kata
Aki Haji sambil mengarahkan sekilas pandang ke arahku.
Dengan
gerak malu-malu dan gugup, aku meraih penghapus itu kemudian menghapus papan
tulis yang masih kotor tersebut.
Saking
gugupnya, menghapus satu lahan papan tulis itu serasa menghapus seluruh papan
tulis di yayasan Al-Ihya.
Beliau
berdiri di samping papan tulis sambil mengarahkan telunjuknya ke ujung papan
tulis paling atas kiri.
“yeuh..
nu didieu yeuh.. nepi hnteu??”. Kata beliau dengan nada suara nya yang khas dan
membuat merinding.
“Rupanya
beliau sedang mengujiku”. gumamku dalam hati.
Sambil
menjinjitkan kaki, perlahan aku menghapus seluruh noda yang ditunjukkan oleh
beliau.
“ooh..
bisa, hehehe”. Kata Beliau diiringi tawa yang begitu hangat.
Tawa
ramah itu mencairkan seluruh kebekuan yang menyesakan jantungku. Dengan wajah
bahagia, aku meletakan penghapus itu dan kembali ke tempat dudukku.
Terlihat
ruangan kelas semakin penuh. Tanpa kusadari ternyata teman-temanku bermunculan
mengisi tempat duduk masing-masing.
Kemudian
beliau menuliskan satu kata pertama “Translate : Menterjemahkan”
diiringi kosakata-kosakata lain nya sampai memenuhi papan tulis.
Di
sela-sela pembelajaran, beliau mengatakan “Kita jangan pernah merasa kecil
walaupun bersekolah di atas gunung, jauh dari perkotaan. Ibarat air yang dapat
memberikan kehidupan di setiap langkahnya, dimanapun kita berada, jadilah
seperti air yang memberikan banyak manfaat. Karena keberhasilan seseorang itu
tidak semata disebabkan oleh tempat dimana ia belajar melainkan bagaimana ia
belajar.”
Mendengar
kalimat bijak itu pikiranku langsung terbang ke angkasa. Meski ragaku berada di
ruangan yang sempit, namun pikiranku mengankasa….
Segara
setelah itu, senyuman manis menepi di wajahku. Kembali menyusun target masa
depan sehingga ribuan impian langsung terangkai dengan indahnya.
Senin, 18 September 2017
Anak Pesantren
Created By: Meli H. (XII-MIA-2)
Aku adalah anak pesantren, aku baru merasakan hidup di lingkungan
pesantren. Aku belum tahu
bagaimana rasanya hidup di pesantren,dan belum tahu rasanya jauh dari kedua
orang tua.
Sebenarnya
dari dulu aku ingin sekali hidup di lingkungan pesantren,alhamdulilah baru
tercapai sekarang.
Sebenarnya
aku ingin hidup di pesantren sejak dulu,tapi karena keadaan keluarga yang
kurang biaya untuk pesantren,akhirnya keinginanku di tunda dulu dan baru
tercapai sekarang.Dulu waktu aku lulus sd,aku menangis kepada orang
tuaku,karena aku ingin melanjutkan sekolah sambil pesantren.
Waktu
itu keadaan Ayahku baru saja sembuh dari sakit jejang-kejang. Melihat
keadaan seperti itu membuat aku menjadi
sedih.Saat aku menangis ingin hidup di lingkungan pesantren ibuku berkata’’Nak
bukannya Ibu tidak mau kamu hidup di lingkungan Pesantren,malah Ibu senang
kalau kamu mau melanjutkan Sekolah sambil Pesantren,tapi lihat keadaan Ayahmu
sekarang yang baru sembuh dari sakitnya.Aku menjawab’’Ya Bu,aku sangat sedih
melihat keadaan Ayahsekarang,yaudah semoga saja di lain waktu aku bisa
melanjutkan Sekolah sambil Pesantren.
Akupun
melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 PULOSARI.Aku masuk Sekolah
menjalankan MOS,MO,setelah selesai menjalankan kegiatan itu baru aku masuk
menjadi siswIkelas 1,dan aku masuk kelas 1D.Pada zaman aku kelas 1 pertama
masuk nya tidak di tes dulu,tapi sekarang mah alhamdulilah ada tes dulu.
Aku
belajar di Sekolah Menengah Pertama dengan bersungguh-sungguh,tapi rasa ingin
hidup di Pesantren masih ada di benakku,walaupun keinginanku belum tercapai,aku
menjalani hari dengan penuh kegembiraan.Kadang-kadang, selalu terfikirkan oleh
ku dan dirasakan oleh hatiku kata-kata yang salah,dan berdosa.seperti kata-kata
seperti ini’’Andaikan saja aku hidup di Pesantren’’Tapi aku tidak boleh bicara
seperti itu,karena itu bisa membuka perbuatan syetan.
Kita juga jangan mengandai ngandai,ada ayat
al-qur’an mengatakan ’’Jangan bilang andaikan aku lakukan begini-begitu’’Tapi
bilanglah bahwa ini takdir Allah, sesungguhnya mengandai-andai itu adalah
membuka perbuatan syetan.Jangan bilang begitu ya adik adik lebih baik kita
bilang ini takdir dari Allah swt.
Di
Sekolah Menengah Pertama aku bukan hanya mencari ilmu dunia,tapi aku juga belajar ilmu akhirat.aku sering mengikuti
kegiatan keAgamaan seperti ,Lomba Ceramah dalam memperingati Maulid Nabi, Isro
Mi’roj Nabi Muhamad saw.
Akupun lulus dari Sekolah Menengah
Pertama.Setelah lulus Sekolah Menengah Pertama, al- ha mdulilah akhirnya keinginanku dikabulkan
oleh Allah swt.
Keinginanku
ingin hidup di Pesantren,kenapa?Karena saya ingin mempelajari ilmu Agama,ingin
mempunyai bekal untuk di akhirat kelak,ingin mempelajari Do’a-Do’a,dan ingin
lebih dekat lagi dengan Allah swt.Dan juga ingin bisa membuat Orang Tua senang
dan bangga.amiiiiiiin
Alhamdulilah
sekarang Ayahku sembuh dari sakitnya,aku bersyukur kepada Allah
swt.Alhamdulilah Ayahku sembuh dari sakitnya waktu aku masih di kelas 1 SMP.
Setelah
aku lulus dari Sekolah Menengah Pertama aku akan meneruskan Sekolah di Madrasah
Aliyah AL-IHYA Kd.ronyok.Sambil Pesantren yang di cita citakan oleh ku sejak
dulu.
Aku
pun bersiap-siap untuk hidup Lingkungan Pesantren,dari sebelum aku lulus
Sekolah Menengah Pertama,aku sudah menyiapkan untuk keperluanku di sana.Seperti
ROK,KERUDUNG dan PAKAIAN PANJANG.
Aku
pun membereskan keperluan untuk nanti aku di sana yaitu di Pesantren.Dengan
wajah tersenyum dan kegembiraan aku membereskan semua itu.Keluaga besarku
datang kerumahku,memberikan bekal untuk keperluanku disana nanti,termasuk
Nenek-Nenekku.Mereka memberi pesan kepadak,kata Nenekku’’Jaga dirimu baik-baik
disana Nak’’dengan penuh kelembutan mereka menyampaikan hal itu,dan juga Nenekku
memberi pesan kepadaku’’Jangan nakal,harus bersungguh-sungguh, jangan membuat
Orang Tua kamu kecewa,jangan buat Ibu dan Ayahmu menjadi sedih,harus bertahan
jangan dulu ingin pulang,dan juga jangan berselisih dengan Teman harus selalu
akur,harus selalu menghafal dan jangan lupa harus selalu beribadah kepada Allah
swt.
Aku
menjawab pesan Nenek-Nenekku’’Ya Nek aku akan selalu ingat pesan Nenek’’.Ibuku
juga memberi pesan kepadaku seperti yang di sampaikan oleh Nenek-Nenekku,Ayahku
memberikan pesan,keluarga besarku pun memberikan pesan.Akupun mesakan kalau aku
akan berpergian jauh.
Aku
harus ingat semua nasehat dan pesan yang di sampaikan oleh kedua Orang
Tua,Nenek,dan Keluarga besarku.dan juga
aku harus pintar-pintar memilih teman jangan salah pergaulan,nanti kita akan
terjerumus,audzubilahimin dzalik.Bukannya kita sombong memilih-milih teman tapi
kita harus berteman dengan orang-orang yang baik,karna dimana pun kita berada
harus waspada dalam memilih teman,kalau tidak ,nanti kita akan terjerumus.
Akupun
berangkat untuk mencari ilmu agama,yang di inginkan ku sejak dulu.Aku berangkat
pukul 06.00 WIB aku bersalaman dahulu kepada kedua Orang Tuaku,Adikku,Keluarga
besarku dan juga tetanggak,aku sedih bercampur senang,aku sedih karena aku akan
meninggalkan kedua orang tuaku,adikku juga keluargaku.
Senangnya keinginanku sejak dulu akan segera
aku kejar.Aku berangkat diantar oleh Ayahku,aku hanya diantar oleh Ayahku tidak
dengan Ibuku karena ,Ibuku menemani Adikku yang masih kecil,tidak apa-apa aku
hanya di antar oleh Ayahku,do’anya pun sudah berarti untukku
Aku
dan Ayahku berangkat kira-kira pukul 06.00 dijalan aku ingin segera sampai ke
tempat tujuanku yaitu Pesantren.Dijalan aku merasa deg-degan,dan mempunyai
perasaan gimana rasanya nanti aku di sana dan belum saling mengenal.
Tak
lama kemudian aku dan Ayahku sampai tujuan alhamdullilah kami selamat Aku dan
Ayahku pun daftar ke tempat Pendaftaran Asrama.Aku pesantren sambil Sekolah,di
MA AL-IHYA KD RONYOK,dan mengambil
program IPA,aku pun masuk kedalam asrama untuk menyimpan tas aku yang di
dalamnya ada pakaian,tetapi pakaiannya belum di bawa semua.
Setelah
aku masuk ke Asrama untuk menyimpan tasku,dan aku merasakan sedih bahwa setelah
ini aku akan di tinggalkan oleh Ayahku,rasa takut pun muncul disertai rasa gemetar,langkah
demi langkah Ayahku berjalan dan berkata’’Jaga dirimu baik –baik disini Nakk
doa Ayah meyertaimu’’Ya Ayah,do’a kan aku selalu,agar aku bisa buat ayah
bangga’’ jawabku dengan perasaan kehilangan dan air mata pun terasa di
hatiku’’.
Tetesan
air mata ku pun,mulai jatuh perlahan-lahan,sedikit demi sedikit melihat
kepergian Ayahku.Tetesan air mata ku pun mulai jatuh perlahan –lahan melihat
kepergian Ayahku. tapi aku harus ingat pesan keluargaku’’Harus bertahan
Nakk!’’Aku masuk Sekolah baruku,yaitu Madrasah Aliyah Kd.Ronyok,tak kerasa
sekarang aku sudah besar,aku harus mandiri dan bisa menjadi anak yang
membanggakan orang tuaku,akupun di Sekolah bertemu dengan Teman-Teman
baruku,tapi rasa sedihku pun masih terus menerus berada di hatiku,aku duduk sambil
meneteskan air mata membayangkan kepergian bapakku tadi.
Serigkali
aku mengatakan’’Ingin pulang,ingin pulang,kangen Ayah,kangen Ibu,kangen
semua,tapi aku harus bertahan’’Aku berpikir kenapa aku harus menangis ataupun
bersedih inikan keinginanku,harusnya aku bersyukur kepada Allah,masih banyak di
luar sana yang ingin sepertiku,ingin bersekolah.Aku pulang Sekolah bersama
Teman baruku, ingatanku datang kembali saat aku pulang Sekolah dulu saat
smp,dari sekolah terus kerumah, bertemu dengan Ibu dan Ayahku,tapi sekarang aku
tidak setiap hari bertemu dengannya,sekarangaku tidak seperti itu lagi,dan
terkadang air mataku terjatuh,tapi aku harus mandiri,kalau kita sudah lama
pasti tidak seperti itu lagi kita akan betah.Aminnnnnn.
Sekarang
aku merasakan hidup di Asrama,aku senang sekali,walaupun aku jauh dari kedua
orang tuaku,tapi kalau itu untuk mencari ilmu kenapa tidak,agar kita menjadi
mandiri,dan di asrama juga ada pengurus-pengurusnya juga pada baik semua, aku
jadi betah di sana.
Lama kelamaan aku semakin betah,dan aku
berpikir yang lain juga pasti merasakan seperti yang kurasakan,yaitu ingin
pulang waktu menjadi anak baru.Sekarang kami semua menjadi kenal,kami tahu
dimana di mana nama-nama tempat tinggalnya,karena kami semua melakukan
perkenalan dibimbing oleh pengurus,kami sering bercandaan,sering ngobrol
,danlain sebagainya.
Aku
bangun pagi-pagi,mandi bersama yang lain,mengambil wudhu dan bersiap-siap untuk
melaksanakan sholat subuh berjamaah,setelah sholat kami dzikiran bersama,
dilanjut dengan membaca ayat suci al-qur’an,itu kami lakukan setiap hari.Pukul
05.00 aku dan Teman-Teman semua melaksanakan hapalan subuh dengan semangat dan
giat,kemudian setelah selesai kami semua bersiap-siap untuk berangkat ke
Sekolah.
Di
sekolah seperti Siswa yang lainnya aku dengan Teman-Teman,hari demi hari aku
lewati di tempat tinggalku yang sekarang,tawa dan tanggis aku lewati di
pesantren.Rindu ingin pulang itu hal biasa,karna semua orang pasti merasan
namanya rindu,tapi lama kelamaan rasa itu
akan hilang.
Jangan
kita ngomong tidak betah kalau sedang mencari ilmu,karena kita sedang di uji
oleh Allah swt,seberapa kuat keimanan dan ketaatan kita kepadanya.Aku mentaati peraturan di asrama,setiap malam
kamis dan 2minggu sekali pada malam minggunya semua anak Asrama belajar khitobah,karena
khitobah sangat penting,di dalam masyarakat pasti di perlukan,pada malam selasa
dan jum’at kami tahlil ke sansila,hari senin,sabtu,minggu sorenya kami ngaji
kitab,malam rabu,sabtu,senin kami kursus b. inggris,ngaji tajwij itu semua aku
dan Teman-tTeman lakukan setiap hari,dan itu adalah agenda Asrama.
Kita
jangan hanya mencari ilmu dunia tapi kita juga harus mencari ilmu akhirat
juga.Aku ingin bisa mendo’kan kedua orang tuaku,ingin menjadi anak yang
berbakti kepada orang tua dan menjadi anak yang solehah,membuat mereka bangga.
Saya
Pesantren dan Sekolah mengambil program IPA,karena saya mempunyai cita-cita
yaitu menjadi seorang Dokter dan saya ingin juga menjadi seorang ustajah,setiap
2 minggu sekali aku di jengguk oleh Ayahku,karena adikku masih kecil jadi,
ibuku jarang menjengukku.Aku di jengguk oleh ayahku .Terkadang mengeluarkan air
mata ,karna aku jarang melihat Ayahku begitu juga ibu dan adikku.aku senang
sekali di jengguk oleh Ayah ataupun Ibuku,tapi kenapa kadang-kadang aku menjadi
sedih,sedih itu bercampur senang,disaat aku ngobrol dengan Ayahku air mata itu
keluar.Ayahku bertanya padaku’’Bagaimana keadaanmu Nak,apa baik-baik
saja?’’sambil ku mengambil tangannya,bersalaman dengannya,aku
menjawab’’Alhamdulillah Yah aku baik-baik saja,Ayah bagaimana,apakah sehat
juga,ibu adik bagaimana
keadaannya?’’Alhamdulillah Ayah sehat,ibu dan adikmu juga sehat’’jawab Ayah
dengan penuh kasih saying.Ayah juga bartanya’’Apakah kamu betah
Nak?’’Alhamdullilah betah Yah do’akan aku selalu ya yah!,jawabku.’’ya nak do’a
Ayah selalu meyertaimu’’ jawab Ayah sambil mengelus-ngelus kepalaku dengan
penuh kelembutan.
Libur Sekolah pun telah tiba-tiba,yaitu
libur lebaran haji,aku pulang di jemput oleh Ayahku,sebelum Ayahku datang aku
membereskan pakaian yang akan ku bawa,anehnya hampir semua pakaian aku
bawa,sampai-sampai selimut pun aku bawa.
Kadang
aku ingin tertawa mengigat hal itu.Karena,masa semua pakaian hampir di bawa
semua,aku kan bakal ke Pesantren lagi.Tak lama kemudian Ayahku datang,dengan
wajah bahagia aku turun dari Asrama menghampiri Ayahku.’’Ayah?’’aku memanggil
Ayah dengan wajah tersenyum.’’sini nak!’’ kata Ayahku,aku dan Ayahku pun pulang
ke Rumah.
Di
jalan aku ingin segera sampai kerumah,aku tak sabar lagi ingin bertemu dengan
ibu dan adikku,juga keluarga besarku.Aku dijalan senyum-senyum sendiri
membayangkan kalau aku sudah sampai di rumah,aku ingin segera sampai,karena aku
tak tahan lagi menahan rasa rindu yang sudah lama aku rasakan.
Tak
lama kemudian aku dan Ayahku pun sampai ke rumah dengan selamat,aku turun dari
kendaraan roda dua,dengan tersenyum bahagia,akupun bersalaman dengan ibuku.Aku
juga bersalaman dengan tetangga dan juga adik juga nenekku.ibuku tersenyum
melihat kepulanganku.
Aku
rindu sama ibuku,alhamdulilah rasa rinduku sudah terobati.Dirumah aku membantu
ibu membuat kue untuk lebaran nanti,adikku dan saudaraku juga ikut
membantu,kami lakukan itu dengan penuh senyuman,candaan.Aku harus menghabiskan
liburanku dengan keluargaku,karena sekarang aku tidak setiap hari dengan mereka.Aku ingin selalu
bersama mereka tapi aku harus mencari ilmu untuk kebaikanku dan
keluargaku,karena mencari ilmu wajib.
Lebaran
pun telah tiba,semua keluargaku berkumpul,tapi rasa senang ku bercampur
sedih,karena tinggal menghitung hari aku akan kembali lagi ke pesantren dan
meninggalkan keluargaku,aku masih ingin bersama dengan
keluargaku,adiku,tapi,aku tidak boleh egois,tidak boleh menyerah,nanti ada
waktunya bersama keluarga disaat libur sekolah tiba.
Hari
pun terasa cepat berlalu sebentar lagi aku akan kembali untuk mencari ilmu,aku
bersiap-siap untuk kembali ke Pesantren yang ku dambakan.sebenarnya aku masih
ingin bersama keluargaku,aku harus bisa menahan itu.
Hari
minggu pun telah tiba,sorenya aku akan berangkat lagi ke Pesantren untuk
mencari ilmu.aku bersiap-siap,waktu pun mengarah pukul 16.00,aku pun berpamitan
kepada ibu ,adik dan keluargaku.bersalaman dengan ibu,adik,nenek dan keluarga
semua.air mata terasa menetes.tapi ku harus menahannya,aku
harus membuat ibu,bapak,dan keluargaku bangga melihat kesuksesanku.
“…Adik-adik semua belajarlah di waktu
kecil,karena belajar di waktu kecil lebih mudah dari belajar di waktu
dewasa.kitaharuslah selalu bersyukur dengan apa yang telahallah berikan kepada
kita,jangan mengeluh,dan kita harus selalu patuh kepada kedua orang tua kita…”
Terlambat
Created By :A-A Ikha'a.
Bel berbunyi nyaring ketika aku sampai
di gerbang besar sekolah. Siswa lain yang masih berada diluar area sekolah
segera melangkah cepat. Mengejar kecepatan pak zein penjaga sekolah yang mulai
menatap gerbang sambil sambil
menggenggam sebuah gembok besar serta
rencengan kunci seluruh lubang kunci yang ada di sekolah.
Aku berjalan santi ketika orang lain
terbara bara menuju kelas masing masing. Membenarkan posisi kerudung lebarku
yang sedikit miring. Dan baru ikut berlari kecil ketika seisi koridor berangsur
sepi. Melangkah cepat menuju pintu kelas ku berada. Sambil diam diam tanpa ku
sadari, bibir ku telah merangkai senyum simpal. Sebenarnya bukan kebisaanku
datang tepat pada waktu … nya masuk
sekolah. Aku selalu datang di saat sebelum yang lain datang.
Ketika pak Zein masih menyantapa sarapan sepiring pisang
goreg dan kopi hitamnya di pos jaga. Disaat
mentari masih bersembunyi dibalik jejeran
pegunungan yang menjulang tinggi. Disaat angkasa raya masih berwarna biru lembayunhg.
Ketika rerumputan lapangan masih basah oleh embun pagi.
Saat itulah aku
sudah berada didalam kelasku, duduk dibangku deretan pertama paling ujung.
Memandang jauh menembus jendela kearah rerumputan
lapangan sekolah, deretan pegunungan sekolah, langit berwarna lembut dan menatap alam yang selalu
misterius.
Tetapi hari ini berbeda,
aku datang
ketika Matahari mulai meninggi,
ketika panasnya mentari mulai terasa dikulit.
Ketika langit begitu terang hingga menyilaukan mata,
ketika embun pagi telah kembali menguap ke udara.
Ketika pak zein telah melangkah keluar dari pos jaga.
Menggenggam gembok besar dan rentengan kunci seluruh
sekolah.
Karena hanya di
hari inilah aku bisa berpapasan dengan nya.
Hal yang hanya terjadi sehari dalam seminggu,
Hanya dihari ini ia akan berkesempatan datang kekelasku.
Mendorong kursi roda seorang guru sepuh yang mendapat
bagian mengajar dikelasku. Mengantar beliau hinng meja guru,
menyapaku yang masih dia
berdidiluarkelas. Menyapaku dengan kalimat “selamat pag
rinai hari itu kau hampir saja terlambat”
tersenyum ia menyapaku menunjukan gingsul giginya diantara deretan gigi yang
rapih. Lantas pamit pergi melanjutkan perjalanannya menuju kelas.
Aku membalas sapaannya hanya dengan
anggukan. Tersenyum sopan barang sekeja.
Entah ia melihatnnya atau tidak. Lantas belum genap ia berpamitan aku sudah
melesat masuk kekelas melangkah gonta sambil menghela nafas. Senang sekaligus
kecewa. Senang karena bisa bertemu dengan nya. Kecewa karena tak bisa berrkata
apa apa. Selalu saja begitu setiap minggunya.Hingga tanpa kusadari siklus iu
terus terjadi selama setengah tahun.
Bermula ketika pertamakali ia menuntun
kursi roda pak Hasan. Saat itu minggu pertama tahun ajaran baru. Kini aku kelas satu Aliyah, masih
kuingat sapaan pertamanya, senyum pertamanya yang hingga kini tak
berubah.Bedanya saat itu ia menyapaku dengan kalimat “selamat pagi. Hari ini
kan hampir saja terlambat‘. Ia belum tahu namaku ,tetapi sapaan pertamanya
sudah begitu akrab.
Seiring waktu berjalan, ia akhirnya
mengetahui namaku dan akupun mengetahui namanya lewat cari cari dengan anak
anak yang sedang berkumpul setiap hari, membicarakan sesuatu yang selalu
terdengar seru.
Ia bernama haidarah kelas 2 Aliyah, berbeda
satu tahun dengan ku. Haidarah dalam bahasa Arab berarti ”Singa” nama asli dari
khalifah Ali Bin Abi Thalib. Aku merasa senang ketika mengetahui arti dari kata
namanya itu. Nama yang selalu kuingat sejak pertama kali mengetahuinya, nama
yang selalu kuulang dikala pagi masih begitu gelap.
Hingga aku mengikuti siklusnya, berusaha
sebisa mung kin datang bersamaan
dengannya. Setelah melewati beberapa minggu aku mulai berusaha merangkai kata
untuk membalas suratnya. Tapi aku selalu mengulangi kesalahanku. Hanya diam, tersenyum
barang sekejap hingga akhirnya melengos pergi, menghela nafas berat antara
senang sekaligus kecewa.
Setengah tahun terlewati tak ada yang
berubah setiap kali aku berpapasan dengannya. Hingga sebuah kenyataan tak
terduga datang tiba tiba, seperti ketika kau sedang menikmati sebotol air yang
baru habis setengah dan tiba tiba saja kau tersedak. Air yang tadinya
menyegarkan berubah mencekik tenggorokan. Alasannya sederhana pak Hasan tak
lagi mengajar ia pun tak lagi mampir dikelasku. Aku kehilangan sapaannya sejak
itu, tak ada lagi senyum ramahnya,tak bisa kulihat lagi gingsul gigi nya, tak
ada lagi kesempatan menyampaikan sepatah dua patah kata kepadanya.
Dengan amat nyata, kurasakan ada
sesuatu yang hilang tapi bahkan aku tak mengetahui apa sejatinya apa yang
hilang itu. Aku kembali pada suatu yang amat jelas, Haidarah telah pergi…
Setelah terakhir kali aku
melihatnya,aku tak pernah melihatnya lagi. Entah itu lewat dikelas, koridor, kantin,
lapangan seakan ia tak ada atau memang tak ingin bertemu denganku lagi.Seakan
akan dari hati ada yang tercabut amat dalam sekali. Waktu terus berjalan tanpa
memperdulikan apapun, begitu pula diriku yang kecil. Waktu berjalan bagai
hembasan angin yang terlupakan.
Kini aku berumur 17 tahun, setelah
libur panjang nanti aku resmi akan menjadi murid kelas 3 Aliyah. Hari ini
adalah acara perpisahana siswa siswi angkatan Haidarah. Hingga saat inipun aku
tetap tak melihatnya diantara orang-orang yang memakai kebaya untuk perempuan, dan
pakaian batik untuk laki laki. Aku tak menghela nafas seperti 2 tahun yang
lalu, hanya menatap lapangan yang ramai oleh lautan manusia.
Setengah
hari berlalu acara telah selesai. Saat itu aku bersiap siap akan pulang, saat
hendak mengambil tas punggungku didalam kelas kulihat sebuah amplop terselip di
sisi kanan tas tertera namaku disudut bawah amplop.
Inilah jawaban dari pertanyaanku 2
tahun yang lalu.
Assalamu’alaikum
Rinai. Bagaimana kabarmu??? Semoga kau selalu sehat.
Sebenarnya
aku tak tahu hendak mengatakan apa, akupun tak yakin jika kau mengenali siapa
aku. Tapi, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku adalah orang yang selalu
menunggumu sejak pertama kali kita berpapasan mendorong kursi roda perlahan
sambil berhitung akan kedatanganmu. Aku mencoba sebisa mungkin bisa berpapasan
dengan mu.Beberapa minggu terlewati aku berusaha menyusun kalimat baru untuk
menyapamu. Tapi aku hanya mengulang kesalahanku. Hingga pak hasan tak mengajar
lagi. Hanya kalimat itu selalu ku ucapkan. Rasa penasaranku kepadamu belum
terjawab. Tiba-tiba pertanyaan lain datang menambah pikira. Aku merasa ada
sesuatu yang hilang. Seperti ada yang tercabut di dalam dasar hati .
Dua tahun berlalu tak pernah
terlupakan pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawab. Aku berharap di hari
inilah jawaban itu datang. Kini aku sudah menemukan jawaban dari satu
pertanyaan akan rasa penasaranku ini. Aku ternyata merindukan senyum simple mu
rinai…
Haidarah
Langganan:
Postingan (Atom)
INFO Terbaru
"The Best Writer Of The Month" Edisi September
INFO Khusus
Karena terbentur dengan kegiatan UAS dan libur sekolah, pendaftaran anggota baru dibuka pada tanggal 01 November - akhir Desember 2017